Memanfaatkan Limbah Plastik Menjadi
Pundi-Pundi Uang
Nama : Dhina Kusuma Wardani
NPM : 11144600017
Kelas : PGSD
A1-11
1. Pendahuluan
Salah
satu faktor yang menyebabkan rusaknya lingkungan hidup yang sampai saat ini
masih menjadi “PR” besar bagi bangsa Indonesia adalah faktor pembuangan limbah
sampah plastik. Kantong plastik telah menjadi sampah
yang berbahaya dan sulit dikelola. Manusia memang dianugerahi Panca Indera yang
membantunya mendeteksi berbagai hal yang mengancam hidupnya. Namun di dalam
dunia modern ini muncul berbagai bentuk ancaman yang tidak terdeteksi oleh
panca indera kita, yaitu berbagai jenis racun yang dibuat oleh manusia sendiri.
Lebih dari 75.000 bahan kimia sintetis telah dihasilkan manusia dalam beberapa
puluh tahun terakhir. Sebagian besar zat kimia ada yang tidak berwarna, berasa,
dan berbau, namun potensial menimbulkan bahaya kesehatan
bagi manusia maupun makhluk hidup lainnya dan dapat berdampak bagi keseimbangan
lingkungan. Sebagian besar yang
diakibatkannya bagi kesehatan memang berdampak jangka panjang, seperti kanker,
kerusakan saraf, dan lainnya. Sifat racun sintetis yang tidak berbau dan
berwarna, dan dampak kesehatannya yang berjangka panjang, membuatnya lepas dari
perhatian kita. Kita lebih risau dengan gangguan yang langsung bisa dirasakan
oleh panca indera kita. Hal ini terlebih dalam kasus sampah, di
mana gangguan bau yang menusuk dan merusak pemandangan (keindahan/kebersihan) sekitar
kita sangat menarik perhatian panca indera kita. Begitu dominannya gangguan bau
dan pemandangan dari sampah
inilah yang telah mengalihkan kita dari bahaya racun dari sampah,
yang lebih mengancam kelangsungan hidup kita dan anak cucu kita.
Saat
ini sampah
telah banyak berubah. Setengah abad yang lalu masyarakat belum banyak mengenal
plastik. Mereka lebih banyak menggunakan berbagai jenis bahan organik. Pada awal tahun 1980-an, orang masih menggunakan tas belanja dan
membungkus daging dengan daun jati. Sekarang kita berhadapan dengan sampah-sampah
jenis baru, khususnya berbagai jenis plastik. Hal itu membuat plastik banyak
dipakai atau digunakan di masyarakat dan ketergantungan akan plastik sangat
tinggi. Plastik dalam bentuk kantong plastik sangat mudah kita temui di supermarket,
swalayan, dan tempat-tempat penjualan lainnya karena kantong plastik sangat
praktis dan efisien. Sifat plastik dan bahan organik sangat berbeda-beda. Bahan organik mengandung bahan-bahan alami yang bisa
diuraikan oleh alam dengan berbagai cara, bahkan hasil penguraiannya berguna
untuk berbagai aspek kehidupan. Sampah
plastik dibuat dari bahan sintetis, umumnya menggunakan minyak bumi sebagai
bahan dasar, ditambah bahan-bahan tambahan yang umumnya merupakan logam berat
(kadnium, timbal, nikel) atau bahan beracun lainnya seperti Chlor. Racun dari
plastik ini terlepas pada saat terurai atau terbakar. Penguraian plastik akan
melepaskan berbagai jenis logam berat dan bahan kimia lain yang dikandungnya. Pembakaran
plastik menghasilkan salah satu bahan paling berbahaya di dunia, yaitu Dioksin.
Dioksin adalah salah satu dari sedikit bahan kimia yang telah diteliti secara
intensif dan telah dipastikan menimbulkan kanker. Bahaya dioksin sering
disejajarkan dengan DDT, yang sekarang telah dilarang di seluruh dunia. Selain
dioksin, abu hasil pembakaran juga berisi berbagai logam berat yang terkandung
di dalam plastik (S. Hadijoto. 1983. Penanganan
dan Pemanfaatan Sampah. Yayasan Idayu. Jakarta)
B. Isi
1. Pengertian
Sampah
Sampah
adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa
atau utama dalam pembuatan
atau pemakaian barang rusak atau bercacat dalam pembuatan barang, materi berkelebihan, ditolak
atau buangan. Sampah bisa juga
diartikan sebagai suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktifitas manusia maupun proses alam yang belum memiliki nilai
ekonomis (Istilah Lingkungan untuk
Managemen, Ecolink, 1996). Berangkat dari pandangan tersebut sehingga
sampah dapat dirumuskan sebagai bahan sisa dari kehidupan sehari-hari
masyarakat yang tidak bermanfaat bahkan sebagai limbah sampah dan dapat
berdampak bagi lingkungan dan kesehatan kita. Sampah yang harus
dikelola tersebut berasal dari:
1. Rumah
tangga.
2. Kegiatan komersial: pusat perdagangan, pasar,
pertokoan, hotel, dan restoran.
3. Fasilitas sosial: rumah ibadah, asrama, rumah tahanan/penjara,
rumah sakit, dan klinik.
5. Industri.
Apakah
melihat sampah yang begitu banyak kita akan berdiam saja? Tentu saja tidak yang perlu kita lakukan adalah menciptakan
suatu hal baru yang digunakan untuk
dapat mengolah sampah sehingga sampah yang dihasilkan menjadi barang yang
berguna sehingga permasalahan sampah
yang berserakan dapat diminimalkan. Namun sayangnya pengolahan sampah ini masih
sangat minim dilihat dari segi masyarakat melihat sampah itu sendiri dapat
dipastikan bila sampah hanya dianggap sebelah mata. Pada dasarnya
seharusnya kita mulai mengubah pola pikir melihat adanya sampah yang ada disekitar kita tentu saja dengan upaya pengendalian
sampah itu sendiri.
2. Pembagian Sampah
1. Sampah Organik
Sampah
organik biasa disebut sampah basah. Sampah Organik merupakan barang
yang dianggap sudah tidak terpakai dan dibuang oleh pemilik/pemakai. Tetapi
masih bisa dipakai kalau dikelola dengan prosedur
yang benar dan dapat diperbaharui lagi. Organik adalah proses yang kokoh dan relatif cepat, maka
tanda apa yang kita punya untuk menyatakan bahwa bahan-bahan pokok kehidupan, misalnya
molekul
organik, dan planet-planet sejenis, ada juga di suatu
tempat di jagad
raya.
Beberapa penemuan baru memberikan rasa optimis yang cukup penting. Sampah organik adalah sampah yang bisa
mengalami pelapukan (dekomposisi) dan terurai menjadi bahan yang lebih
kecil dan tidak berbau (sering disebut dengan kompos). Kompos
merupakan hasil pelapukan
bahan-bahan organik seperti daun-daunan, jerami, alang-alang,
sampah, rumput,
dan bahan lain yang sejenis yang proses pelapukannya dipercepat oleh bantuan
manusia. Sampah pasar khusus seperti pasar sayur mayur, pasar buah, dan pasar
ikan. Jenisnya relatif seragam, sebagian besar
(95%) berupa sampah organik sehingga lebih mudah ditangani. Sampah yang berasal
dari pemukiman umumnya sangat beragam, tetapi secara umum minimal 75% terdiri
dari sampah organik dan sisanya anorganik.
2.
Sampah
Anorganik
Sampah
anorganik sering disebut sampah kering. Sampah anorganik berasal
dari sumber daya alam tak terbarui seperti mineral dan minyak bumi, atau dari
proses industri. Jenis sampah ini sudah
tidak bisa dipakai lagi atau dimanfaatkan lagi. Beberapa dari bahan ini tidak
terdapat di alam seperti plastik dan aluminium. Sebagian zat anorganik secara
keseluruhan tidak dapat diuraikan oleh alam, Sehingga dapat menimbulkan
berbagai masalah yang mengancam makhluk hidup dan lingkungan. Sedangkan jenis zat lainnya hanya dapat diuraikan
dalam jangka waktu yang sangat lama untuk menguraikan sampah tersebut. Sampah
jenis ini dapat dijumpai pada sampah rumah tangga, misalnya berupa botol, tas, dan plastik. Kaleng, kertas,
koran, dan karton merupakan pengecualian. Karena berdasarkan asalnya, kertas, koran, dan
karton termasuk sampah organik. Tetapi karena kertas, koran, dan dapat didaur
ulang seperti sampah anorganik lain (misalnya gelas, kaleng, dan plastik), maka
dimasukkan ke dalam kelompok sampah anorganik yang dibutuhkan proses pengolahan
yang benar dan tepat. Agar dapat menghasilkan barang yang bermanfaat.
3. Dampak
Sampah bagi Manusia dan lingkungan
Sudah
kita sadari bahwa pencemaran lingkungan akibat perindustrian maupun rumah
tangga sangat merugikan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Melalui
kegiatan perindustrian dan teknologi
diharapkan kualitas kehidupan dapat lebih ditingkatkan dan taraf kehidupan
masyarakat bisa lebih baik.
Dengan proses pengelolaan yang baik dan benar. Namun seringkali peningkatan teknologi juga menyebabkan dampak negatif yang
tidak sedikit baik bagi kesehatan maupun bagi lingkungan.
Lokasi
dan pengelolaan sampah yang kurang memadai (pembuangan sampah yang tidak
terkontrol) merupakan tempat yang cocok bagi beberapa organisme dan menarik
bagi berbagai binatang seperti lalat dan anjing yang dapat menimbulkan penyakit
seperti: penyakit diare,
kolera, dan tifus. Penyakit
tersebut menyebar dengan cepat karena virus yang berasal dari sampah yang
pengelolaanya tidak tepat dapat bercampur air minum. Penyakit demam berdarah
(haemorhagic fever) dapat juga meningkat dengan cepat di daerah yang
pengelolaan sampahnya kurang
memadai. Selain itu penyakit jamur juga dapat menyebar melalui rantai makanan.
Untuk itu perlu penanganan yang serius dalam hal ini. Untuk itu masyarakat
harus sadar akan kebersihan lingkungan. Dimulai dari diri sendiri dan setelah
itu kebersihan lingkungan akan mudah dilakukan.
2. Dampak Terhadap
Lingkungan
Cairan
rembesan sampah yang masuk ke dalam drainase atau sungai akan mencemari air.
Berbagai organisme termasuk ikan dapat mati sehingga beberapa spesies akan berkurang. Hal ini mengakibatkan berubahnya ekosistem
perairan. Dampaknya juga mempengaruhi pada keseimbangan
air dan keseimbangan lingkungan. Ekosistem ikan menjadi berkurang akibat limbah
sampah yang mencemari air dan
kerusakan-kerusakan lainnya. Penguraian sampah yang dibuang ke
dalam air akan menghasilkan
berbagai zat misalnya: asam organik dan gas-cair organik, seperti
metana. Selain berbau kurang sedap, gas ini dalam konsentrasi tinggi dapat
meledak.
Salah satu faktor yang menyebabkan rusaknya lingkungan
hidup yang sampai saat ini masih tetap menjadi “PR” besar bagi bangsa Indonesia
adalah faktor pembuangan limbah sampah plastik. Kantong plastik telah
menjadi sampah yang berbahaya dan sulit dikelola. Diperlukan waktu puluhan
bahkan ratusan tahun untuk membuat sampah bekas kantong plastik itu benar-benar
terurai. Namun yang menjadi persoalan adalah dampak negatif sampah plastik
ternyata sebesar fungsinya juga. Dibutuhkan waktu 1000 tahun agar plastik dapat
terurai oleh tanah secara terdekomposisi atau terurai dengan sempurna. Ini
adalah sebuah waktu yang sangat lama. Saat terurai, partikel-partikel plastik akan
mencemari tanah dan air tanah. Jika dibakar, sampah plastik akan menghasilkan
asap beracun yang berbahaya bagi kesehatan
yaitu jika proses pembakaranya tidak sempurna, plastik akan mengurai di udara
sebagai dioksin. Senyawa ini sangat berbahaya bila terhirup manusia. Dampaknya
antara lain memicu penyakit kanker, hepatitis, pembengkakan hati, gangguan
sistem saraf dan memicu depresi.
Kantong
plastik juga penyebab banjir, karena menyumbat saluran-saluran air, tanggul.
Sehingga mengakibatkan banjir bahkan yang terparah merusak turbin waduk. Diperkirakan,
500 juta hingga satu miliar kantong plastik digunakan di dunia tiap tahunnya.
Jika sampah-sampah ini dibentangkan maka, dapat membukus permukaan bumi setidaknya
hingga 10 kali lipat! Coba Anda
bayangkan begitu fantastisnya sampah plastik yang sudah terlampau menggunung di
bumi kita ini. Tahukah Anda?
Setiap tahun, sekitar 500 milyar–1 triliyun kantong plastik digunakan di
seluruh dunia. Diperkirakan setiap orang menghabiskan 170 kantong plastik
setiap tahunnya. Lebih
dari 17 milyar kantong plastik dibagikan secara gratis oleh supermarket di
seluruh dunia setiap tahunnya. Kantong plastik mulai marak digunakan sejak
masuknya supermarket di kota-kota besar. Sejak
proses produksi hingga tahap pembuangan, sampah plastik mengemisikan gas rumah
kaca ke atmosfer. Kegiatan produksi plastik membutuhkan sekitar 12 juta barel
minyak dan 14 juta pohon setiap tahunnya. Proses produksinya sangat tidak hemat
energi. Pada tahap pembuangan di lahan penimbunan sampah (TPA), sampah plastik
mengeluarkan gas rumah kaca.
5. Usaha Pengendalian Sampah
1. Sanitary
Landfill
Merupakan
salah satu metode pengolahan sampah terkontrol dengan sistem sanitasi yang
baik. Sampah dibuang disuatu tempat, kemudian
dipadatkan dengan traktor.Selanjutnya sampah ditutup tanah.Pada bagian dasar
tempat tersebut dilengkapi sistem saluran yang berfungsi sebagai saluran limbah
cair sampah yang harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke sungai. Pada
sanitary landfill juga dipasang pipa
gas untuk mengalirkan gas hasil aktivitas hasil penguraian sampah. Cara ini sangat menguntungkan karena
menghilangkan polusi udara.
2. Pembakaran
sampah (incineration)
Sampah
padat dibakar didalam insinerator. Hasil
pembakaran adalah gas dan residu pembakaran. Penurunan
volume sampah padatmencapai 70%.
3. Penghancuran
(pulverization)
Penghancuran
sampah dilakukan di dalam mobil pengumpulan sampah yang telah dilengkapi dengan
alat pelumat sampah. Sampah
langsung dihancurkan menjadi potongan-potongan kecil yang dapat dimanfaatkan
untuk menimbun tanah yang letaknya rendah.
6.
Prinsip-prinsip Produksi Bersih adalah prinsip-prinsip yang juga bisa diterapkan
dalam keseharian, misalnya dengan
menerapkan Prinsip 4R, yaitu:
a.
Reduce (mengurangi)
Reduce/precycling merupakan langkah pertama untuk mencegah penimbunan
sampah. Sebisa
mungkin meminimalisasi barang atau material yang kita digunakan. Semakin banyak kita menggunakan material, semakin
banyak sampah yang dihasilkan. Misalnya,
kita selalu menggunakan kantong plastik saat berbelanja. Jika dalam satu minggu
kita berbelanja sebanyak tiga kali, maka dalam sebulan kita akan menghasilkan
sampah berupa kantong plastik sebanyak dua belas buah. Tumpukan
sampah akan terus bertambah jika kita tidak segera mengurangi penggunaanya atau
bahkan menggantinya dengan kantong belanjaan yang ramah lingkungan, seperti
kantong anyaman dari daun pandan.
b.
Reuse
(menggunakan kembali)
Sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa dipakai
kembali. Untuk menghemat dan
mengurangi sampah dengan cara menggunakan kembali barang-barang yang telah
dipakai. Hindari pemakaian barang-barang yang yang disposable
(sesekali pakai).Hal ini dapat memperpanjang waktu pemakaian barang sebelum
barang tersebut menjadi sampah.
Apa saja barang yang masih bisa
digunakan misalnya, kertas-kertas
berwarna-warni dari majalah bekas dapat dimanfaatkan untuk bungkus kado yang
menarik, menggunakan botol plastik (produk minyak goring atau sabun) yang bisa
diisi ulang. Dengan demikian, setidaknya kita tidak akan menghasilkan
sampah botol plastik selama beberapa lama. Menggunakan kembali barang bekas adalah wujud cinta
terhadap lingkungan.
c.
Recycle
(mendaur ulang)
Mendaur ulang juga
sering disebut mendapatkan kembali sumber daya.
(resource recovery), khususnya
untuk sumber daya alami. Daur ulang diartikan mengubah sampah menjadi produk
baru, yaitu untuk barang-barang yang tidak dapat digunakan dalam waktu cukup
lama misalnya kertas, alumunium, gelas plastik. Sebisa mungkin,
barang-barang yang sudah tidak berguna
didaur ulang lagi. Tidak semua barang bisa didaur ulang, tetapi saat ini
sudah banyak industriinformal dan industri rumah tangga yang memanfaatkan
sampah menjadi barang lain. Di antara industri-industri ini ada yang mengubah
sampah plastik menjadi berbagai suvenir, sampah kertas menjadi lukisan dan
mainan miniatur, atau sampah alumunium foil menjadi tas dan dompet.
d.
Replace
(mengganti)
Teliti barang yang akan kita pakai sehari-hari. Gantilah
barang-barang yang hanya bisa di pakai sekali dengan barang yang lebih tahan
lama dan telitilah agar kita juga memakai barang-barang yang lebih ramah
lingkungan, misalnya ganti kantong plastik dengan keranjang saat bebelanja dan
jangan menggunakan styrofoam
karena kedua bahan ini tidak bisa didegradasi secara alami. Kita juga bisa
menggunakan tas anyaman dari daun pandan atau bamboo sebagai pengganti kantong
plastik dan menggunakan daun pisang untuk membungkus makanan kita.
7. Sajadah
Kreatif
Sajadah biasanya terbuat dari kain wol, bahan
karpet, atau kain perca (potongan-potongan) yang model dan coraknya hanya itu
saja. Semakin berkembangnya ilmu teknologi dan daya kreatifitas masyarakat,
timbul sebuah ide yang dapat bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan
khususnya. Kita memanfaatkan limbah sampah plastik yang saat ini banyak
digunakan dalam masyarakat. Baik dalam rumah tangga, industri maupun pada pusat
perbelanjaan. Dengan hal itu kita dapat mengurangi dampak yang disebabkan oleh
limbah plastik. Indonesia akan semakin terlihat beraneka ragam dengan berbagai
jenis model baru oleh karena itu sebagai generasi muda harus memulai proses
kreatif sebagai wujud cinta tanah air. Apakah itu mungkin? Jawabannya tentu
saja “ya” sebab pembelajaran bukan hanya di sekolah namun juga pembelajaran
dengan cara praktek langsung seperti pengolahan sampah ini sehingga
pembelajaran yang ditanamkan akan membuat peserta didik cinta lingkungan coba
saja bila tercipta hal baru dari sampah pasti akan menjadi sebuah teladan
seperti saja sajadah kreatif ini.
Pernahkah
terbayang ada sajadah yang terbuat dari bahan sangat asing bagi kita. Sajadah ini terbuat
dari rangkaian bahan-bahan bekas, yakni kombinasi antara kertas dan plastik
tanpa bantuan alat perekat ataupun jahitan. Modalnya hanya tiga bahan yaitu: kertas HVS bekas fotokopi, keresek
putih bekas bungkusan belanjaan, dan plastik bungkusan kopi sachet-an. Lipatan-lipatan
kertas jadi pembentuk model awal. Selanjutnya,
plastik keresek
putih dan bungkusan kopi dilipat mengikuti
model itu. Ada dua alasan penggunaan kertas HVS sebagai model awal. Pertama,
bahannya agak kaku sehingga lipatannya tidak mudah rusak. Kedua, kertas jenis
ini cukup tahan air. Keresek putih menjadi warna dasar, sedangkan bungkusan
kopi sebagai bahan pembentuk motif dan warna sajadah. Sajadah berukuran 110 x
65 cm itu merupakan pengembangan dari pembuatan tatakan piring. Modelnya
seperti anyaman tikar yang terdiri atas rajutan model-model ketupat. Bedanya,
tikar merupakan anyaman padat, sedangkan sajadah ini menyisakan lubang-lubang
yang berbentuk ketupat. Bagian
tengah sajadah bergambar masjid dan ventilasi diatasnya yang berbentuk segitiga
kecil yang terbentuk dari rangkaian lipatan-lipatan plastik bungkus kopi. Tidak semua keresek putih
dan plastik bungkusan kopi bisa dijadikan bahan pembuatan sajadah ini. Keresek
putihnya yang agak kaku, sedangkan bungkusan kopinya hanya yang digunting
mendatar di bagian atas agar mudah untuk dilipat dan dirajut, plastik keresek
yang cukup tebal menghasilkan warna putih yang kuat. Syarat untuk bungkusan
kopi terutama demi menjaga keutuhan gambar pada bungkusan kopi yaitu berguna
untuk menjaga keutuhan motif. Ketebalan sajadah itu memberi keempukan lebih
daripada sajadah-sajadah yang terbuat dari kain wol atau perca. Alas untuk sholat ini pun tak mudah basah. Sajadah ini
tampaknya lebih cocok untuk ibadah salat di rumah, kurang praktis untuk dibawa
ke mana-mana. Selain karena susah dilipat, sajadah ini cukup berat. Biasanya
lebih cocok digunakan saat perayaan hari besar seperti Idul fitri dan idul
adha. Diperlukan waktu sekitar tiga minggu untuk
membuat satu sajadah. Karena dibutuhkan kesabaran, ketelitian dalam proses pembuatan sajadah
jenis ini serta corak gambar sajadah
yang menarik dan unik maka, tidak salah apabila harganya sedikit mahal.
C.
Kesimpulan
Sampah merupakan material sisa yang tidak
diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah merupakan konsep buatan
manusia, dalam proses-proses alam tidak ada sampah, yang ada hanya
produk-produk yang tak bergerak. Sampah dapat berada pada setiap fase materi:
padat, cair, atau gas. Sampah harus
dikekola dengan baik dan benar agar permasalahan dan pencemaran sampah serta
volume sampah dapat berkurang dapat teratasi secara keseluruhan. Sampah plastik
dapat diatasi dengan cara mengolah limbah sampah plastik dengan memanfaatkan
limbah plastik yang diproses menjadi sajadah plastik, sehingga plastik yang
tadinya dianggap tidak berguna dengan pengolahan yang benar maka plastik dapat
bermanfaat dan dapat menghasilkan uang. Pemanfaatan sampah dengan
metode daur ulang sangat ramah lingkungan
sehingga dalam pelaksanaan setiap metode yang dilakukan bermanfaat dan berdaya guna. Ada 4 metode yang dapat digunakan dalam keseharian kita untuk menanggulangi sampah yaitu: Reduce (Mengurangi), Re-use
(Memakai kembali), Recycle (Mendaur
ulang), Replace (Mengganti). Sanitary Landfill, pembakaran sampah (inicenaration),
dan penghancuran (pulverization) juga merupakan cara untuk mengatasi sampah. Apabila
metode-metode dan cara-cara tersebut
dapat terrealisasikan dengan baik maka keberhasilan pengelolahan sampah dapat
dikatakan meningkat dan dampak yang
dihasilkan dari sampah dapat diatasi dan berkurang.
Daftar
Pustaka
http://onlinebuku.com/2009/02/17/sajadah-unik-dan-cantik-berbahan-dasar-flanel-untuk-anak-anak/
Agung
Suprihatin, S. Pd; Ir. Dwi Prihanto; Dr. Michel Gelbert. 1996. Pengelolaan
Sampah. Malang : PPPGT / VEDC Malang.
(Eds). Issues in
Environmental Science and Technology. The Royal Society of
Chemistry,
Cambridge. JICA, 2008. Statistik Persampahan Indonesia.
Rindhawati,
N., 2004. “Kajian Penambangan Landfill di TPA Desa Besuk”,Kabupaten
Lumajang, Tesis. Jurusan Teknik Lingkungan FTSP-ITS.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar