Translate

Rabu, 12 Desember 2012

Karya ilmiahku

-->
Memanfaatkan Limbah Plastik Menjadi Pundi-Pundi Uang
Nama : Dhina Kusuma Wardani
NPM   : 11144600017
Kelas  : PGSD A1-11

1.  Pendahuluan
Salah satu faktor yang menyebabkan rusaknya lingkungan hidup yang sampai saat ini masih menjadi “PR” besar bagi bangsa Indonesia adalah faktor pembuangan limbah sampah plastik. Kantong plastik telah menjadi sampah yang berbahaya dan sulit dikelola. Manusia memang dianugerahi Panca Indera yang membantunya mendeteksi berbagai hal yang mengancam hidupnya. Namun di dalam dunia modern ini muncul berbagai bentuk ancaman yang tidak terdeteksi oleh panca indera kita, yaitu berbagai jenis racun yang dibuat oleh manusia sendiri. Lebih dari 75.000 bahan kimia sintetis telah dihasilkan manusia dalam beberapa puluh tahun terakhir. Sebagian besar zat kimia ada yang tidak berwarna, berasa, dan berbau, namun potensial menimbulkan bahaya kesehatan bagi manusia maupun makhluk hidup lainnya dan dapat berdampak bagi keseimbangan lingkungan. Sebagian besar  yang diakibatkannya bagi kesehatan memang berdampak jangka panjang, seperti kanker, kerusakan saraf, dan lainnya. Sifat racun sintetis yang tidak berbau dan berwarna, dan dampak kesehatannya yang berjangka panjang, membuatnya lepas dari perhatian kita. Kita lebih risau dengan gangguan yang langsung bisa dirasakan oleh panca indera kita. Hal ini terlebih dalam kasus sampah, di mana gangguan bau yang menusuk dan merusak pemandangan (keindahan/kebersihan) sekitar kita sangat menarik perhatian panca indera kita. Begitu dominannya gangguan bau dan pemandangan dari sampah inilah yang telah mengalihkan kita dari bahaya racun dari sampah, yang lebih mengancam kelangsungan hidup kita dan anak cucu kita.
Saat ini sampah telah banyak berubah. Setengah abad yang lalu masyarakat belum banyak mengenal plastik. Mereka lebih banyak menggunakan berbagai jenis bahan organik. Pada awal tahun 1980-an, orang masih menggunakan tas belanja dan membungkus daging dengan daun jati. Sekarang kita berhadapan dengan sampah-sampah jenis baru, khususnya berbagai jenis plastik. Hal itu membuat plastik banyak dipakai atau digunakan di masyarakat dan ketergantungan akan plastik sangat tinggi. Plastik dalam bentuk kantong plastik sangat mudah kita temui di supermarket, swalayan, dan tempat-tempat penjualan lainnya karena kantong plastik sangat praktis dan efisien. Sifat plastik dan bahan organik sangat berbeda-beda. Bahan organik mengandung bahan-bahan alami yang bisa diuraikan oleh alam dengan berbagai cara, bahkan hasil penguraiannya berguna untuk berbagai aspek kehidupan. Sampah plastik dibuat dari bahan sintetis, umumnya menggunakan minyak bumi sebagai bahan dasar, ditambah bahan-bahan tambahan yang umumnya merupakan logam berat (kadnium, timbal, nikel) atau bahan beracun lainnya seperti Chlor. Racun dari plastik ini terlepas pada saat terurai atau terbakar. Penguraian plastik akan melepaskan berbagai jenis logam berat dan bahan kimia lain yang dikandungnya. Pembakaran plastik menghasilkan salah satu bahan paling berbahaya di dunia, yaitu Dioksin. Dioksin adalah salah satu dari sedikit bahan kimia yang telah diteliti secara intensif dan telah dipastikan menimbulkan kanker. Bahaya dioksin sering disejajarkan dengan DDT, yang sekarang telah dilarang di seluruh dunia. Selain dioksin, abu hasil pembakaran juga berisi berbagai logam berat yang terkandung di dalam plastik (S. Hadijoto. 1983. Penanganan dan Pemanfaatan Sampah. Yayasan Idayu. Jakarta)
B. Isi
1.  Pengertian Sampah
Sampah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa atau utama dalam pembuatan atau pemakaian barang rusak atau bercacat dalam pembuatan barang, materi berkelebihan, ditolak atau buangan. Sampah bisa juga diartikan sebagai suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktifitas manusia maupun proses alam yang belum memiliki nilai ekonomis (Istilah Lingkungan untuk Managemen, Ecolink, 1996). Berangkat dari pandangan tersebut sehingga sampah dapat dirumuskan sebagai bahan sisa dari kehidupan sehari-hari masyarakat yang tidak bermanfaat bahkan sebagai limbah sampah dan dapat berdampak bagi lingkungan dan kesehatan kita. Sampah yang harus dikelola tersebut berasal dari:
1.  Rumah tangga.
2.   Kegiatan komersial: pusat perdagangan, pasar, pertokoan, hotel, dan restoran.
3.  Fasilitas sosial:  rumah ibadah, asrama, rumah tahanan/penjara, rumah    sakit, dan klinik.
4.  Fasilitas umum:  terminal, pelabuhan, bandara, halte kendaraan umum, taman, dan jalan.
5.  Industri.
6.  Hasil pembersihan saluran terbuka umum, seperti sungai, danau, dan pantai.
Apakah melihat sampah yang begitu banyak kita akan berdiam saja? Tentu saja tidak  yang perlu kita lakukan adalah menciptakan suatu  hal baru yang digunakan untuk dapat mengolah sampah sehingga sampah yang dihasilkan menjadi barang yang berguna sehingga  permasalahan sampah yang berserakan dapat diminimalkan. Namun sayangnya pengolahan sampah ini masih sangat minim dilihat dari segi masyarakat melihat sampah itu sendiri dapat dipastikan bila sampah hanya dianggap sebelah mata. Pada dasarnya seharusnya  kita mulai mengubah pola pikir melihat adanya sampah yang ada disekitar kita tentu saja dengan upaya pengendalian sampah itu sendiri.

2. Pembagian Sampah
1.  Sampah Organik
Sampah organik biasa disebut sampah basah. Sampah Organik merupakan barang yang dianggap sudah tidak terpakai dan dibuang oleh pemilik/pemakai. Tetapi masih bisa dipakai kalau dikelola dengan prosedur yang benar dan dapat diperbaharui lagi. Organik adalah proses yang kokoh dan relatif cepat, maka tanda apa yang kita punya untuk menyatakan bahwa bahan-bahan pokok kehidupan, misalnya molekul organik, dan planet-planet sejenis, ada juga di suatu tempat di jagad raya. Beberapa penemuan baru memberikan rasa optimis yang cukup penting. Sampah organik adalah sampah yang bisa mengalami pelapukan (dekomposisi) dan terurai menjadi bahan yang lebih kecil dan tidak berbau (sering disebut dengan kompos). Kompos merupakan hasil pelapukan bahan-bahan organik seperti daun-daunan, jerami, alang-alang, sampah, rumput, dan bahan lain yang sejenis yang proses pelapukannya dipercepat oleh bantuan manusia. Sampah pasar khusus seperti pasar sayur mayur, pasar buah, dan pasar ikan. Jenisnya relatif seragam, sebagian besar (95%) berupa sampah organik sehingga lebih mudah ditangani. Sampah yang berasal dari pemukiman umumnya sangat beragam, tetapi secara umum minimal 75% terdiri dari sampah organik dan sisanya anorganik.
2.  Sampah Anorganik
Sampah anorganik sering disebut sampah kering. Sampah anorganik berasal dari sumber daya alam tak terbarui seperti mineral dan minyak bumi, atau dari proses industri. Jenis sampah ini  sudah tidak bisa dipakai lagi atau dimanfaatkan lagi. Beberapa dari bahan ini tidak terdapat di alam seperti plastik dan aluminium. Sebagian zat anorganik secara keseluruhan tidak dapat diuraikan oleh alam, Sehingga dapat menimbulkan berbagai masalah yang mengancam makhluk hidup dan lingkungan. Sedangkan jenis zat lainnya hanya dapat diuraikan dalam jangka waktu yang sangat lama untuk menguraikan sampah tersebut. Sampah jenis ini dapat dijumpai pada sampah rumah tangga, misalnya berupa botol, tas, dan  plastik. Kaleng, kertas, koran, dan karton merupakan pengecualian. Karena berdasarkan asalnya, kertas, koran, dan karton termasuk sampah organik. Tetapi karena kertas, koran, dan dapat didaur ulang seperti sampah anorganik lain (misalnya gelas, kaleng, dan plastik), maka dimasukkan ke dalam kelompok sampah anorganik yang dibutuhkan proses pengolahan yang benar dan tepat. Agar dapat menghasilkan barang yang bermanfaat.
3. Dampak Sampah bagi Manusia dan lingkungan
Sudah kita sadari bahwa pencemaran lingkungan akibat perindustrian maupun rumah tangga sangat merugikan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Melalui kegiatan perindustrian dan teknologi diharapkan kualitas kehidupan dapat lebih ditingkatkan dan taraf kehidupan masyarakat bisa lebih baik. Dengan proses pengelolaan yang baik dan benar. Namun seringkali peningkatan teknologi juga menyebabkan dampak negatif yang tidak sedikit baik bagi kesehatan maupun bagi lingkungan.
1. Dampak bagi kesehatan
Lokasi dan pengelolaan sampah yang kurang memadai (pembuangan sampah yang tidak terkontrol) merupakan tempat yang cocok bagi beberapa organisme dan menarik bagi berbagai binatang seperti lalat dan anjing yang dapat menimbulkan penyakit seperti: penyakit diare, kolera, dan tifus. Penyakit tersebut menyebar dengan cepat karena virus yang berasal dari sampah yang pengelolaanya tidak tepat dapat bercampur air minum. Penyakit demam berdarah (haemorhagic fever) dapat juga meningkat dengan cepat di daerah yang pengelolaan sampahnya kurang memadai. Selain itu penyakit jamur juga dapat menyebar melalui rantai makanan. Untuk itu perlu penanganan yang serius dalam hal ini. Untuk itu masyarakat harus sadar akan kebersihan lingkungan. Dimulai dari diri sendiri dan setelah itu kebersihan lingkungan akan mudah dilakukan.
2. Dampak Terhadap Lingkungan
Cairan rembesan sampah yang masuk ke dalam drainase atau sungai akan mencemari air. Berbagai organisme termasuk ikan dapat mati sehingga beberapa spesies akan berkurang. Hal ini mengakibatkan berubahnya ekosistem perairan.  Dampaknya juga mempengaruhi pada keseimbangan air dan keseimbangan lingkungan. Ekosistem ikan menjadi berkurang akibat limbah sampah yang mencemari air dan kerusakan-kerusakan lainnya. Penguraian sampah yang dibuang ke dalam air akan menghasilkan berbagai zat misalnya: asam organik dan gas-cair organik, seperti metana. Selain berbau kurang sedap, gas ini dalam konsentrasi tinggi dapat meledak.
4. Bahaya Sampah Plastik bagi Kesehatan dan Lingkungan
Salah satu faktor yang menyebabkan rusaknya lingkungan hidup yang sampai saat ini masih tetap menjadi “PR” besar bagi bangsa Indonesia adalah faktor pembuangan limbah sampah plastik. Kantong plastik telah menjadi sampah yang berbahaya dan sulit dikelola. Diperlukan waktu puluhan bahkan ratusan tahun untuk membuat sampah bekas kantong plastik itu benar-benar terurai. Namun yang menjadi persoalan adalah dampak negatif sampah plastik ternyata sebesar fungsinya juga. Dibutuhkan waktu 1000 tahun agar plastik dapat terurai oleh tanah secara terdekomposisi atau terurai dengan sempurna. Ini adalah sebuah waktu yang sangat lama. Saat terurai, partikel-partikel plastik akan mencemari tanah dan air tanah. Jika dibakar, sampah plastik akan menghasilkan asap beracun yang berbahaya bagi kesehatan yaitu jika proses pembakaranya tidak sempurna, plastik akan mengurai di udara sebagai dioksin. Senyawa ini sangat berbahaya bila terhirup manusia. Dampaknya antara lain memicu penyakit kanker, hepatitis, pembengkakan hati, gangguan sistem saraf dan memicu depresi.
Kantong plastik juga penyebab banjir, karena menyumbat saluran-saluran air, tanggul. Sehingga mengakibatkan banjir bahkan yang terparah merusak turbin waduk. Diperkirakan, 500 juta hingga satu miliar kantong plastik digunakan di dunia tiap tahunnya. Jika sampah-sampah ini dibentangkan maka, dapat membukus permukaan bumi setidaknya hingga 10 kali lipat! Coba Anda bayangkan begitu fantastisnya sampah plastik yang sudah terlampau menggunung di bumi kita ini. Tahukah Anda? Setiap tahun, sekitar 500 milyar–1 triliyun kantong plastik digunakan di seluruh dunia. Diperkirakan setiap orang menghabiskan 170 kantong plastik setiap tahunnya. Lebih dari 17 milyar kantong plastik dibagikan secara gratis oleh supermarket di seluruh dunia setiap tahunnya. Kantong plastik mulai marak digunakan sejak masuknya supermarket di kota-kota besar. Sejak proses produksi hingga tahap pembuangan, sampah plastik mengemisikan gas rumah kaca ke atmosfer. Kegiatan produksi plastik membutuhkan sekitar 12 juta barel minyak dan 14 juta pohon setiap tahunnya. Proses produksinya sangat tidak hemat energi. Pada tahap pembuangan di lahan penimbunan sampah (TPA), sampah plastik mengeluarkan gas rumah kaca.
5. Usaha Pengendalian Sampah
1.    Sanitary Landfill
Merupakan salah satu metode pengolahan sampah terkontrol dengan sistem sanitasi yang baik. Sampah dibuang disuatu tempat, kemudian dipadatkan dengan traktor.Selanjutnya sampah ditutup tanah.Pada bagian dasar tempat tersebut dilengkapi sistem saluran yang berfungsi sebagai saluran limbah cair sampah yang harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke sungai. Pada sanitary landfill juga dipasang pipa gas untuk mengalirkan gas hasil aktivitas hasil penguraian sampah. Cara ini sangat menguntungkan karena menghilangkan polusi udara.
2.    Pembakaran sampah (incineration)
Sampah padat dibakar didalam insinerator. Hasil pembakaran adalah gas dan residu pembakaran. Penurunan volume sampah padatmencapai 70%.
3.    Penghancuran (pulverization)
Penghancuran sampah dilakukan di dalam mobil pengumpulan sampah yang telah dilengkapi dengan alat pelumat sampah. Sampah langsung dihancurkan menjadi potongan-potongan kecil yang dapat dimanfaatkan untuk menimbun tanah yang letaknya rendah.

6. Prinsip-prinsip Produksi Bersih adalah prinsip-prinsip yang juga bisa diterapkan dalam keseharian, misalnya dengan menerapkan Prinsip 4R, yaitu:
a.    Reduce (mengurangi)
Reduce/precycling merupakan langkah pertama untuk mencegah penimbunan sampah. Sebisa mungkin meminimalisasi barang atau material yang kita digunakan. Semakin banyak kita menggunakan material, semakin banyak sampah yang dihasilkan. Misalnya, kita selalu menggunakan kantong plastik saat berbelanja. Jika dalam satu minggu kita berbelanja sebanyak tiga kali, maka dalam sebulan kita akan menghasilkan sampah berupa kantong plastik sebanyak dua belas buah. Tumpukan sampah akan terus bertambah jika kita tidak segera mengurangi penggunaanya atau bahkan menggantinya dengan kantong belanjaan yang ramah lingkungan, seperti kantong anyaman dari daun pandan.
b.    Reuse (menggunakan kembali)
Sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa dipakai kembali. Untuk menghemat dan mengurangi sampah dengan cara menggunakan kembali barang-barang yang telah dipakai. Hindari pemakaian barang-barang yang yang disposable (sesekali pakai).Hal ini dapat memperpanjang waktu pemakaian barang sebelum barang tersebut menjadi sampah. Apa  saja barang yang masih bisa digunakan  misalnya, kertas-kertas berwarna-warni dari majalah bekas dapat dimanfaatkan untuk bungkus kado yang menarik, menggunakan botol plastik (produk minyak goring atau sabun) yang bisa diisi ulang. Dengan demikian, setidaknya kita tidak akan menghasilkan sampah botol plastik selama beberapa lama. Menggunakan kembali barang bekas adalah wujud cinta terhadap lingkungan.
c.    Recycle (mendaur ulang)
Mendaur ulang juga sering disebut mendapatkan kembali sumber daya.  (resource recovery), khususnya untuk sumber daya alami. Daur ulang diartikan mengubah sampah menjadi produk baru, yaitu untuk barang-barang yang tidak dapat digunakan dalam waktu cukup lama misalnya kertas, alumunium, gelas plastik. Sebisa mungkin, barang-barang yang sudah tidak berguna  didaur ulang lagi. Tidak semua barang bisa didaur ulang, tetapi saat ini sudah banyak industriinformal dan industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah menjadi barang lain. Di antara industri-industri ini ada yang mengubah sampah plastik menjadi berbagai suvenir, sampah kertas menjadi lukisan dan mainan miniatur, atau sampah alumunium foil menjadi tas dan dompet.
d.    Replace (mengganti)
Teliti barang yang akan kita pakai sehari-hari. Gantilah barang-barang yang hanya bisa di pakai sekali dengan barang yang lebih tahan lama dan telitilah agar kita juga memakai barang-barang yang lebih ramah lingkungan, misalnya ganti kantong plastik dengan keranjang saat bebelanja dan jangan menggunakan styrofoam karena kedua bahan ini tidak bisa didegradasi secara alami. Kita juga bisa menggunakan tas anyaman dari daun pandan atau bamboo sebagai pengganti kantong plastik dan menggunakan daun pisang untuk membungkus makanan kita.

 7. Sajadah Kreatif
 Sajadah biasanya terbuat dari kain wol, bahan karpet, atau kain perca (potongan-potongan) yang model dan coraknya hanya itu saja. Semakin berkembangnya ilmu teknologi dan daya kreatifitas masyarakat, timbul sebuah ide yang dapat bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan khususnya. Kita memanfaatkan limbah sampah plastik yang saat ini banyak digunakan dalam masyarakat. Baik dalam rumah tangga, industri maupun pada pusat perbelanjaan. Dengan hal itu kita dapat mengurangi dampak yang disebabkan oleh limbah plastik. Indonesia akan semakin terlihat beraneka ragam dengan berbagai jenis model baru oleh karena itu sebagai generasi muda harus memulai proses kreatif sebagai wujud cinta tanah air. Apakah itu mungkin? Jawabannya tentu saja “ya” sebab pembelajaran bukan hanya di sekolah namun juga pembelajaran dengan cara praktek langsung seperti pengolahan sampah ini sehingga pembelajaran yang ditanamkan akan membuat peserta didik cinta lingkungan coba saja bila tercipta hal baru dari sampah pasti akan menjadi sebuah teladan seperti saja sajadah kreatif ini.
  Pernahkah terbayang ada sajadah yang terbuat dari bahan sangat asing bagi kita. Sajadah ini terbuat dari rangkaian bahan-bahan bekas, yakni kombinasi antara kertas dan plastik tanpa bantuan alat perekat ataupun jahitan. Modalnya hanya tiga bahan yaitu: kertas HVS bekas fotokopi, keresek putih bekas bungkusan belanjaan, dan plastik bungkusan kopi sachet-an. Lipatan-lipatan kertas jadi pembentuk model awal. Selanjutnya, plastik keresek putih dan bungkusan kopi dilipat  mengikuti model itu. Ada dua alasan penggunaan kertas HVS sebagai model awal. Pertama, bahannya agak kaku sehingga lipatannya tidak mudah rusak. Kedua, kertas jenis ini cukup tahan air. Keresek putih menjadi warna dasar, sedangkan bungkusan kopi sebagai bahan pembentuk motif dan warna sajadah. Sajadah berukuran 110 x 65 cm itu merupakan pengembangan dari pembuatan tatakan piring. Modelnya seperti anyaman tikar yang terdiri atas rajutan model-model ketupat. Bedanya, tikar merupakan anyaman padat, sedangkan sajadah ini menyisakan lubang-lubang yang berbentuk ketupat. Bagian tengah sajadah bergambar masjid dan ventilasi diatasnya yang berbentuk segitiga kecil yang terbentuk dari rangkaian lipatan-lipatan plastik bungkus kopi.  Tidak semua keresek putih dan plastik bungkusan kopi bisa dijadikan bahan pembuatan sajadah ini. Keresek putihnya yang agak kaku, sedangkan bungkusan kopinya hanya yang digunting mendatar di bagian atas agar mudah untuk dilipat dan dirajut, plastik keresek yang cukup tebal menghasilkan warna putih yang kuat. Syarat untuk bungkusan kopi terutama demi menjaga keutuhan gambar pada bungkusan  kopi yaitu berguna untuk menjaga keutuhan motif. Ketebalan sajadah itu memberi keempukan lebih daripada sajadah-sajadah yang terbuat dari kain wol atau perca. Alas untuk sholat ini pun tak mudah basah. Sajadah ini tampaknya lebih cocok untuk ibadah salat di rumah, kurang praktis untuk dibawa ke mana-mana. Selain karena susah dilipat, sajadah ini cukup berat. Biasanya lebih cocok digunakan saat perayaan hari besar seperti Idul fitri dan idul adha.   Diperlukan waktu sekitar tiga minggu untuk membuat satu sajadah. Karena dibutuhkan kesabaran,  ketelitian dalam proses pembuatan sajadah jenis ini  serta corak gambar sajadah yang menarik dan unik maka, tidak salah apabila harganya sedikit mahal.
C. Kesimpulan
      Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah merupakan konsep buatan manusia, dalam proses-proses alam tidak ada sampah, yang ada hanya produk-produk yang tak bergerak. Sampah dapat berada pada setiap fase materi: padat, cair, atau gas. Sampah harus dikekola dengan baik dan benar agar permasalahan dan pencemaran sampah serta volume sampah dapat berkurang dapat teratasi secara keseluruhan. Sampah plastik dapat diatasi dengan cara mengolah limbah sampah plastik dengan memanfaatkan limbah plastik yang diproses menjadi sajadah plastik, sehingga plastik yang tadinya dianggap tidak berguna dengan pengolahan yang benar maka plastik dapat bermanfaat dan dapat menghasilkan uang. Pemanfaatan sampah dengan metode daur ulang sangat ramah lingkungan sehingga dalam pelaksanaan setiap metode yang dilakukan bermanfaat  dan berdaya guna. Ada 4 metode yang dapat digunakan dalam keseharian kita untuk  menanggulangi sampah yaitu: Reduce (Mengurangi), Re-use (Memakai kembali), Recycle (Mendaur ulang), Replace (Mengganti). Sanitary Landfill, pembakaran sampah (inicenaration), dan penghancuran (pulverization) juga merupakan cara untuk mengatasi sampah. Apabila metode-metode dan cara-cara tersebut dapat terrealisasikan dengan baik maka keberhasilan pengelolahan sampah dapat dikatakan meningkat dan dampak yang dihasilkan dari sampah dapat diatasi dan berkurang.
Daftar Pustaka
http://onlinebuku.com/2009/02/17/sajadah-unik-dan-cantik-berbahan-dasar-flanel-untuk-anak-anak/
Agung Suprihatin, S. Pd; Ir. Dwi Prihanto; Dr. Michel Gelbert. 1996. Pengelolaan Sampah. Malang : PPPGT / VEDC Malang.
(Eds). Issues in Environmental Science and Technology. The Royal Society of
Chemistry, Cambridge. JICA, 2008. Statistik Persampahan Indonesia.
Rindhawati, N., 2004. “Kajian Penambangan Landfill di TPA Desa Besuk”,Kabupaten
Lumajang, Tesis. Jurusan Teknik Lingkungan FTSP-ITS.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar